Perjalanan panjang mendatangkan Main Battle Tank
(MBT) ke Indonesia agaknya sudah mendekati garis finish. Jika sebelumnya
banyak sekali kita dengar penolakan, mulai dari penolakan yang masih
cukup logis (seperti masalah doktrin dan kondisi alam), sampai kepada
penolakan yang sangat tidak login seperti isu HAM dari para LSM yang
sepertinya memiliki agenda tersembunyi dibaliknya, saat ini proses
pengadaan MBT ini hampir selesai. Harapan militer Indonesia dan juga
rakyat Indonesia untuk melihat wibawa negara melalui angkatan perangnya
agaknya sudah ada di depan mata.
Beberapa waktu lalu negara Belanda sebagai salah satu alternative
pembelian Leopard agaknya jual mahal (walaupun sangat menginginkan Uang
dari Indonesia), dengan alasan HAM. Yah, menurut mereka Indonesia adalah
negara yang belum ‘
menghargai HAM’, padahal mereka adalah negara
yang sama yang melakukan pelanggaran HAM besar-besaran terhadap bangsa
Indonesia di masa lalu. Dan sampai sekarang mereka belum memberikan
permintaan maaf secara resmi ke Indonesia. Maka ketika Prseiden SBY
mengatakan “
Jangan Kuliahi kami tentang HAM” agaknya memang
ditujukan sebagai sebuah bentuk sindiran kepada Belanda. Belanda bukan
Opsi satu-satunya untuk mendatangkan Leopard, masih ada Jerman sebagai
negara produsen aslinya.
Leopard dari Negara Produsen.
Pilihan pemerintah Indonesia yang membeli MBT Leopard langsung dari
Jerman sebagai negara Produsen adalah sebuah langkah cerdas dan juga
memiliki dampak strategis positif seperti masalah Transfer of Technology
(ToT). Sebagaimana kita ketahui bahwa saat ini, Indonesia sangat
antusias dengan komitment ToT dalam setiap pembelian alutsista. Ini
untuk memastikan Indonesia mendapatkan sesuatu yang bermanfaat jangka
panjang bagi Indonesia di balik pembelian satu alutsista. Jika Indonesia
membeli Leopard dari Belanda, maka ToT yang kita peroleh kemungkinan
hanya sebatas ToT pemeliharaan dan maintenance Leopard. Hal ini karena
Belanda bukan produsen Leopard. Sedangkan membeli Leopard dari Jerman
yang merupakan negara Produsen asli Leopard, tentunya akan memberikan
Indonesia peluang untuk meminta ToT yang jauh lebih luas dan lebih
strategis.
Paket Leopard Indonesia : 163 Tank
Beberapa hari terakhir ini, kita dikejutkan dengan berita yang sungguh
diluar dugaan, walaupun sebelumnya sudah beredar isu-isu mengenai itu.
Bagaimana tidak terkejut, karena ternyata paket pembelian Leopard
Indonesia mencapai 163 Tank, yang terdiri dari 63 MBT Leopard 2
Revolusion, 40 leopard 2A4, 10 Unit Tank pendukung dan 50 Medium Tank
Marder 1A3. Jumlah tersebut merupakan sebah jumlah yang cukup fantastis
dan akan membuat kekuatan angkatan darat Indonesia akan meningkat secara
drastis. Memang dari 163 Tank tersebut hanya ada 103 MBT Leopard 2,
selebihnya adalah 10 Tank pendukung. Sisanya 50 Marder 1A3, bukan
termasuk dalam kategori MBT, tetapi merupakan Medium Tank. Walupun
demikian angka tersebut sungguh diluar dugaan banyak pihak, termasuk
saya sendiri.
Dari berita resmi yang admin AnalisisMiliter.com peroleh dari website Kementerian Pertahanan Indonesia,
penandatanganan kontrak
ini akan dilaksanakan pada akhir September 2012 ini. Dalam pertemuan
dengan Perwakilan Jerman, Wamenhan menyampaikan rencana kunjungan kerja
High Level Committee (HLC) ke Jerman untuk bertemu dengan Chief
Executive Officer (CEO) pabrikan Rheinmetall di Frankfurt dalam waktu
dekat.
Sekarang mari kita telisik satu persatu, apa kira-kira gambaran dari
paket leopard yang di beli Indonesia ini. Kita Mulai dari Leopard 2A4,
kemudian Leopard 2 Revolusion, 10 Tank Pendukung serta Marder 1A5.
Gambaran ini diharapkan akan membantu kita memahami seperti apa Leopard
yang akan di beli Indonesia ini.
40 Leopard 2A4
Leopard 2A4 adalah keluarga MBT Leopard yang paling banyak digunakaan
saat ini. Leopard 2A4 ini merupakan pengembangan dari Leopard 2A3,
dimana banyak sekali perubahan substansial dalam seri ini. Contohnya
adalah
automated fire and explosion suppression system yang sudah
serba digital yang bisa menembakkan berbagai type amunisi terbaru
secara akurat dan juga dilengkapi dengan armor perlingungan yang jauh
lebih baik dari model sebelumnya.
Leopard 2 ini di bangun dalam 8 batch antara tahun 1985 sampai 1992. Dan
semua versi sebelumnya juga diupgrade menjadi standard 2A4. Sampai
dengan tahun 1994, Jerman mengoperasikan sekitar 2.125 MBT Leopard 2A4
(695 adalah 2A4 baru, sisanya merupakan upgrade versi lama). Leopard 2A4
juga di produksi secara lisensi kepada Swiss yang akhirnya disebut
dengan Pz 87. Saat ini Swiss mengoperasikan sekitar 380 MBT PZ 87.
Setelah berakhirnya era perang dingin, Jerman merasakan bahwa mereka
tidak lagi memerlukan MBT dalam jumlah yang banyak. Untuk itu, Jerman
akhirnya menjual sebagian besar MBT Leopard 2A4 mereka ke negara lain.
MBT lebih dari Jerman tersebut akhirnya dibeli oleh Austria (114),
Kanada (107), Chile (140), Denmark (51), Finlandia (139), Yunani (183),
Norwegia (52), Polandia (128), Portugal (37), Singapura (96), Spanyol
(108), Swedia (160) dan Turki (339). Jika Indonesia benar-benar membeli
tank MBT leopard ini, maka Indonesia adalah negara kesekian yang
membeli surplus MBT Jerman ini. Menyusul di belakan Indonesia
kemungkinan adalah Filipina yang juga tertarik membeli sekitar 30 MBT
Leopard 2A4 surplus Jerman.
Jelas sekali bahwa 40 MBT Leopard 2A4 ini bukan merupakan MBT baru,
namun bekas pakai militer Jerman. Namun, MBT Bekas bukan berarti
rongsokan,
karena MBT ini sejatinya adalah salah satu MBT terbaik di dunia. Jerman
menjualnya bukan karena MBT ini sudah tidak bagus lagi, namun karena
Jerman memiliki surplus MBT yang sangat banyak sisa dari era Perang
dingin dahulu. Sekarang mereka harus menjualnya untuk mengurangi biaya
maintenance serta mendapatkan uang segar dari penjualannya ke negera
lain.
63 Leopard 2 Revolution
63 MBT Leopard 2 revolution ini agaknya merupakan MBT paling canggih
dari paket yang akan dibeli oleh Indonesia. Leopard 2 Revolution ini
adalah Leopard 2A4 yang di upgrade dalam banyak hal. Leopard 2
Revolution ini lebih baik dari Leopard 2A4 dalam
urban warfare.
MBT jenis ini sudah ditingkatkan performa proteksinya yang dilengkapi
dengan paket armor komposit baru yaitu Advanced Modular Armor Protection
(AMAP). Armor baru ini memberikan tingkat perlindungan yang jauh lebih
tinggi dari serangan musuh. Leopard 2 Revolution ini dilengkapi dengan
modular armor, yang berarti bahwa kerusakan pada satu modul armor dapat
diatasi dengan mengganti armor yang rusak itu saja. Selain itu MBT ini
dilengkapi dengan pelontar granat sebagai bentuk pertahanan diri.
Jika Indonesia benar-benar membeli Leopard 2 Revolution ini, maka
Indonesia akan menjadi negara kedua di ASEAN yang mengoperasikan leopard
jenis ini. Sebelumnya Singapura juga sudah mengoperasikan 96 Leopard
2A4 yang di upgrade menjadi leopard 2 Revolution, yang akhirnya disebut
dengan Leopard 2SG. Dibandingkan dengan Leopard 2A4 standard yang
memiliki bobot 56.6 Ton, maka Leopard 2 Revolution ini memiliki bobot
sekitar 60 ton.
10 Tank Pendukung Leopard 2
Mungkin banyak pihak yang masih belum memahami kenapa harus ada tank
pendukung Tank Leopard 2 ini. Seperti kita ketahui bersama bahwa MBT
adalah kendaraan yang sangat berat, sehingga membutuhkan support agar
bisa bergerak leluasa di berbagai medan tempur. Sebagai contoh adalah
medan tempur yang dilalui adalah berupa sungai-sungai dimana hanya
terdapat jembatan kecil yang tidak memungkinkan untuk dilalui Leopard
yang beratnya mencapai 60 Ton. Atau jika ada kejadian tank Leopard ini
terperosok kedalam lubang atau apalah sehingga harus diangkat oleh
kendaraan lain. Tentu untuk mengangkat Tank seberat 60 ton di perlukan
mesin yang memiliki tenaga extra untuk itu. Disini lah perluanya tank
pendukung ini.
Untuk mengatasi keterbatasan jembatan untuk Leopard telah dikembangkan
varian Leopard versi AVLB (Armored Vehicle Launched Bridge) yang
berfungsi untuk menyediakan jembatan portable dengan panjang sekitar
15-30 meter. Varian Leopard 2 ini sejatinya adalah leopard 2 yang mana
Hull untuk senjatanya diganti dengan jembatan portable. Dengan adanya
varian ini sebagai tank pendukung leopard, maka kritikan selama ini
bahwa Leopard tidak akan bisa beropareasi di jembatan Indonesia adalah
salah. Karena itu bisa diatasi dengan adanya tank pendukung Leopard ini.
Perhatikan gambar di bawah ini, yang merupakan proses pemasangan jembatan yang dilakukan oleh tank pendukung Leopard 2.
Sedangkan untuk menangani masalah angkat berat, dapat dilakukan dengan
varian leopard 2 yang disebut dengan Buffel. Buffel ini memang varian
leopard 2 yang dikhususkan menangani kasus seperti ini.
50 Unit Medium Tank Marder 1A3
Selanjutnya yang membuat pembelian Leopard 2 dari Jerman ini semakin
berkesan adalah disertakannya 50 unit Marder 1A3 sebagai bagian paket
leopard ke Indonesia. Seperti kita ketahui bahwa Indonesia sudah sejak
lama menginginkan ToT untuk membangun Medium Tank sendiri. Dan agaknya
ToT yang akan diberikan Jerman ke Indonesia adalah ToT untuk membangun
Medium Tank berbasis Marder 1A3 yang dibeli ini. Jika hal ini memang
benar terjadi maka ini ToT ini akan memberikan dampak strategis yang
sangat besar bagi Indonesia di masa yang akan datang.
ToT medium tank ini akan sangat membantu Pindad yang selama ini
sepertinya sangat getol ingin mengembangkan Medium Tank sendiri. ToT
Marder 1A3 ini adalah sebuah kesematan emas untuk melangkahkan kaki
Indonesia menuju gerbang kemandirian alutsista di masa yang akan datang.
So, semuanya, mari kita dukung dan terus awasi program akuisisi MBT
Leopard 2 dari Jerman ini untuk kejayaan NKRI. Sekian dulu tulisan dari
saya, admin AnalisisMiliter.com. Salam damai…
Kata Kunci :
Leopard Indonesia| leopard 2A4| Medium Tank Indonesia
Sumber : http://analisismiliter.com