Rabu, 02 November 2011

LAPAN Berhasil Luncurkan 12 Roket di Lumajang


      LUMAJANG, KOMPAS.com - Sebanyak 12 roket buatan Lembaga Penerbangan dan Atariksa Nasional (LAPAN) meluncur di lapangan TNI AU di Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Rabu (27/1/2010). Roket-roket tersebut meluncur satu per satu mulai pagi hingga siang hari.Peluncuran tersebut dilakukan dalam uji-coba yang dilakukan Kementerian Negara Riset dan Teknologi bersama dengan industri strategis. Hadir antara lain Menteri Negara Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, Direktur Teknologi dan Pengembangan Rekayasa PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Andi Alisjahbana, serta pejabat dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), PT Pindad, dan TNI. Bupati Lumajang Sjahrazad Masdar hadir pula dalam kesempatan itu.Roket-roket yang diuji-coba berjenis D 230 kaliber 122 mm. Semuanya berkarakter dari tanah ke tanah dan tanpa kendali. Prototipenya meliputi RX 1210 dengan jarak luncur 14 kilometer (km), RX 1210/121 3 dengan jarak luncur 18 km, dan RX 2020 dengan jarak luncur hasil simulasi sejauh 48 km. Uji-coba ini adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan teknologi di bidang roket. Pemerintah bersama dengan industri strategi bersinergi dalam hal ini untuk mengembangkan roket. Pemerintah mendukung dalam d ana riset, sedangkan produksinya dilakukan industri strategis, kata Suharna di sela-sela acara.Andi Alisjahbana, menyatakan, tidak ada persoalan bagi kalangan industri strategis untuk memproduksi roket-roket tersebut. Pabrik yang selama ini sudah ada tinggal diperluas serta penyiapan tim teknis.


"Karena prototipe roket yang dikembangkan ini adalah yang memang banyak dibutuhkan, maka tinggal komitmen dari pemerintah untuk memproduksinya dalam volume yang banyak," kata Andi.


Kementerian Negara Riset dan Teknologi menargetkan untuk RX 1210 diproduksi 1.000 unit pada Juni 2010. Sementara untuk varian lainnya masih terus dalam pengembangan. Teknologi roket setidaknya digunakan dalam sistem pertahanan serta satelit.

Ketika Arsenal Berkehendak

             Lima belas menit sebelum boarding pesawat dari London menuju Jakarta, telepon Nina Raganatha, Manajer Operasional Sekolah Sepak Bola Indonesia, berdering. Telepon itu dari Ben Corbyn, pelatih kepala di Pusat Pengembangan Arsenal, Klub Sepak Bola Arsenal, Inggris.

             ”Ben meminta Fahmi dan Rangga tinggal di sini, mengikuti uji coba dua hingga enam pekan di Arsenal,” kata Nina seusai telepon dimatikan.
Semua ternganga, terutama 18 anak Tunas Garuda Indonesia yang telah menghabiskan waktu sepekan untuk berlatih dan bertanding di ”kamp” Arsenal. Striker Tunas Garuda Nazarul Fahmi dan penjaga gawang Rangga Pratama, dua orang yang disebut Corbyn, lebih melongo lagi. Bingung.
Jadi? ”Iya, Ben minta Fahmi dan Rangga kembali lagi, berlatih di Pusat Pengembangan Arsenal. Nanti kalian menginap di rumah Ben, semua ditanggung,” kata Nina.
          Lalu, siapa yang akan menemani Fahmi dan Rangga? Diputuskanlah Pelatih SSI Abdul Malik Karim Usup. Nina pun lantas menghubungi petugas Emirates, memohon agar koper Fahmi, Rangga, dan Usup bisa dikeluarkan lagi dari bagasi pesawat. Tidak mudah, tentunya.
Nina ngotot menjelaskan, tawaran Arsenal ini kesempatan langka bagi Fahmi dan Rangga, dua pemain berbakat yang masih berusia 15 tahun. Kesempatan ini adalah kebanggaan bagi Indonesia. Akhirnya, Emirates menyerah.
         Terjadilah drama perpisahan di Bandara Heathrow, London. Semua awak Tunas Garuda bangga, dua teman mereka kembali akan berlatih di Arsenal. ”Saya juga tidak tahu mengapa mereka mendadak sekali memberi tahu. Padahal, setelah pertandingan Jumat itu, kita masih punya waktu sehari di sini,” ujar Nina.
         Sebelumnya, pada Jumat (28/10), Rangga, Fahmi, dan gelandang Dani Raharjanto diminta memperkuat tim Arsenal U-15 untuk bertanding melawan Wycombe Wanderers dan Brighton & Hove Albion, tim divisi II di Inggris. Pada laga melawan Wycombe, Dani mencetak satu gol untuk Arsenal.
Fahmi, Rangga, dan Dani dinilai tim pelatih Arsenal punya keterampilan individu yang sangat bagus sehingga sayang jika tidak didukung. Jika kini Rangga dan Fahmi yang diminta tinggal, Dani akan mendapat giliran berikutnya. ”Pada dasarnya ketiganya bisa masuk akademi di Arsenal yang tentu ada persyaratannya,” ujar Nina yang mendampingi tim Tunas Garuda mulai saat perekrutan, pelatihan di SSI, pelatihan di Arsenal, sampai pulang ke Tanah Air.
          Menurut Corbyn, anak-anak Tunas Garuda tidak hanya berpotensi dalam hal bermain bola, tetapi juga memiliki sikap dan perilaku baik. ”Mereka bagus, tidak main-main, berdisiplin, dan bersemangat dalam berlatih. Mereka ceria dan sangat mencintai sepak bola. Sikap baik ini adalah modal,” tuturnya.
Fahmi mengerti betul potensi yang ia miliki. Bukan langkah mudah bagi ia untuk sampai pada titik ini. Ia pernah beberapa kali menjadi pencetak gol terbanyak dalam berbagai kompetisi sepak bola hingga level Asia Tenggara. Untuk mengikuti seleksi Tunas Garuda, ia terbang dari Bireuen, Aceh, ke Medan bersama ibu dan kakaknya.
         Dari seribuan peserta di Medan, hanya empat yang terpilih, termasuk Fahmi, untuk masuk tim 36 Tunas Garuda. Dari empat anak itu pun, tiga lainnya tidak diikutkan dalam tim 18 sehingga hanya Fahmi satu-satunya wakil Medan.
         Menurut Usup, program perekrutan pemain sepak bola yang paling efektif sebetulnya lewat kompetisi. Namun, tidak terduga, dengan penjaringan ala pencarian bakat kontes menyanyi seperti ini diperoleh bibit-bibit muda berbakat.
         Sebelum berangkat ke London, Tunas Garuda bertanding melawan empat tim dan semuanya menang. Pada saat Tunas Garuda bertanding melawan tim Arsenal U-17 dan Arsenal U-15, Senin dan Rabu (26/10), sejumlah penonton berdecak kagum. ”Mereka tim nasional dari Indonesia?” tanya seorang penonton. ”Bukan? Oh, lalu setelah ini mereka ngapain? Tidak jelas? Oh sayang sekali,” sambung Jamal Jamoul yang asli Libya itu.
         Penonton lain menyahut, ”Lalu, timnas Indonesia seperti apa? Apakah mereka tidak ikut dalam kompetisi di Indonesia?” tanyanya kepada Kompas.
         ”Tunas Garuda hanya sebuah program? Oh.... Saya mengerti, mengapa Indonesia selalu kalah ya di Asia, padahal punya modal sebagus ini,” ujarnya. Nah, kan? (Susi Ivvaty dari London)
< img border="0" src="http://imageshack.us/photo/my-images/440/7c2c5e4ac4248725101bd50.png" />

Rahmad: Pertahankan Apa yang Kita Punya

            Meski waktu untuk berlatih sangat minim, Tim Nasional U-23 tetap melakukan latihan dengan maksimal, Rabu (2/11/2011). Pelatih Rahmad Darmawan menjelaskan latihan hari ini lebih dititikberatkan kepada permainan efisien, satu sama lain dan saling mendukung. Ini dilakukan agar latihan tidak menguras fisik.
"Persiapan tinggal terus mempertahankan yang sudah kita punya," katanya kepada wartawan seusai latihan di Lapangan C Senayan.
Rahmad menjelaskan kondisi seluruh pemain terbilang baik. Hanya Mahardiga Lasut yang masih terbelit dengan cedera. Pemain Mitra Kukar tersebut diberitakan menderita cedera pada belakang pinggulnya.
"Dirga Lasut kita tangani secara khusus karena cederanya. Sementara Egi lumayan membaik dan sudah mulai gabung dengan tim utama," tutur Rahmad.
Latihan kali ini juga tak diikuti oleh Oktovianus Maniani. Rahmad mengatakan, Okto ijin tidak ikut latihan untuk menghadiri pemakaman adiknya.
"Kamis sudah pesan tiket untuk dia, jadi tidak ada masalah. Kita akan lihat kondisi terakhir Okto," tambahnya.

Selasa, 01 November 2011

Gerakan Indonesia Mengajar Meluas


          Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar Anies Baswedan, Selasa (1/11/2011), mengatakan, pengiriman pengajar muda yang dilakukan Gerakan Indonesia Mengajar kini diterapkan di mana-mana. Sejumlah perguruan tinggi dan provinsi telah mengadopsi model pengiriman tenaga pengajar ke daerah-daerah terpencil itu.  
         "Sekarang ada UI (Universitas Indonesia) mengajar, UGM (Universitas Gajah Mada) mengajar. Lalu, ada pula Aceh (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) mengajar," tutur Anies saat memberikan pengantar dalam acara pelepasan 47 pengajar muda angkatan ketiga Gerakan Indonesia Mengajar, di Kantor Wakil Presiden.
           Sebanyak 47 pengajar muda akan berangkat menuju berbagai tempat terpencil di Indonesia pada Kamis (3/11/2011). Mereka menggantikan pengajar muda angkatan pertama yang telah habis masa tugasnya. Pengajar muda yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar bertugas mengajar di SD, di daerah-daerah pelosok selama satu tahun.
          Para pengajar muda ini berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, antara lain Universitas Padjajaran, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta . Ada pula pengajar muda yang merupakan lulusan luar negeri serta bergelar master.
           Selain dihadiri Wakil Presiden Boediono, acara pelepasan 47 pengajar muda angkatan ketiga Gerakan Indonesia Mengajar juga diikuti Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Emil Salim, serta mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal.(kompas.com)

 
Design by Alim Yuandia | Bloggerized by Indonesia Negriku | Alim Yuandia
Kode Follower supported by Tutorial Blog
^ Scroll to Top